Bayan Masturah
Allah Subhanahu wa ta'ala Maha
Kuasa. Kekuasaan Allah tanpa batas. Sedangkan makhluk-makhluk Allah, jika
diberikan kekuasaan, maka ada batasnya. Punya gelar-pangkat-jabatan, hanya di dunia saja. Juga ketika berkuasa di
suatu tempat, tempat lain, bukan dibawah
kekuasaannya. Jendral bisa pensiun, atasan bisa turun. Ada masanya, ada
waktunya. Kekuasaan suatu kelompok, suatu negara, atau barang kali suatu
bangsa, dipergilirkan. Dulu ada Romawi, ada juga Persia. Bahkan Islam juga
pernah berjaya. Namun, semua itu, lagi-lagi ada masanya. Ada ajalnya.
لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌۚ
إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَلَا
يَسۡتَٔۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ
٤٩
Kepintaran-kepandaian manusia,
bisa berkurang, karena waktu. Semakin lama, semakin tua, malah semakin banyak
yang lupa. Bahkan, kepintaran-kepandaian manusia bisa hilang sama sekali. Sedangkan Allah,
Maha Alim. Maha Mengetahui. Kekuasaan Allah, sejak dahulu, sampai kapan pun
tetap berkuasa. Seandainya seluruh makhluk-makluk, enggan taat pada Allah, maka
sama sekali tidak akan membuat Allah menjadi turun derajat-Nya. Allah tidak
akan pensiun, tidak lupa, tidak pikun, juga tidak akan hilang kekuasaan-Nya
sampai kapan pun. Walaupun seluruh manusia di dunia ini, tidak taat pada Allah.
Allah tidak rugi. Justru manusia yang rugi. Karena Allah yang merajai
langit-bumi, dan penguasa seluruh alam semesta beserta isinya.
لِلَّهِ مَا فِي
ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ
٢٨٤
Kepunyaan Allah. Apa-apa yang ada dilangit, apa-apa yang ada di
bumi. Hari ini, dengan
kemuliaan-keagungan Allah, juga karena kehendak Allah. Kita hadir di sini. Kita
dipertemukan, dikumpulkan di majelis yang mulia ini, karena Allah pilih kita,
karena Allah melihat, Allah Mengetahui ada amalan-amalan kita yang diterima
oleh Allah. Sehingga dengan amal yang kita tidak sadari itu, Allah dudukkan di
tempat yang sangat mulia ini, dalam rangka untuk islah diri. Tazkiyatunnafs
(membersihkan jiwa). Kita sama pasang niat, hanya untuk perbaikan diri.
Setelah Nabi diangkat menjadi Rasul, pekerjaan tetap yang beliau lakukan
adalah berdakwah. Perintah shalat sudah ada, namun belum di-syariatkan kepada
kaum Muslimin. Kewajiban shalat, ada kira-kira tahun ke-11 dari kenabian,
setelah Isra Mi'raj. Dari itu, para sahabat yang termasuk orang awwalun,
seperti Ja'far bin Abu Thalib, hanya melakukan perintah wajib berdakwah,
sewaktu Hijrah ke Habasyah.
Dakwah yang dilakukan sahabat pada waktu itu, adalah dakwah aqidah,
sekaligus dakwah bid dakwah. Dakwah untuk menyakinkan diri, kalau Islam yang
baru mereka anut, adalah pilihan yang benar. Caranya dengan mengajak keluarga,
tetangga, karib-kerabat untuk memilih jalan Islam. Ragam dakwah, kata para
alim-ulama, ada banyak jenis. Misalnya; dakwah bil hal (menyumbang), dakwah bil
kutub (belajar di majlis ta'lim), serta dakwah bid dakwah (dakwah mengajak
orang juga berdakwah), dan banyak lagi. Sedangkan dakwah di jaman kita, lebih
banyak dakwah dengan tema iman dan amal soleh. Sehingga dakwah ini adalah jalan
para Nabi- Rasul yang sangat penting. Dakwah menjadi penguat keimanan
seseorang. Apalagi banyak yang baru memeluk Islam. Tentunya butuh dakwah. Hanya
dengan cara berdakwah, keyakinan akan bertambah.
Rasulallah Saw, adalah Nabi terakhir. Sehingga tugas kenabian diwariskan
kepada umatnya. Karena sifatnya warisan, semua orang muslim, berhak mendapatkan
tugas yang mulia ini. Tua-muda, besar-kecil, kaya-miskin, kalau seorang muslim,
maka ada kewajiban dakwah. Walau pun tidak sejajar dengan para Nabi, umat Nabi
dijadikan naib atau wakil dari kerja Nabi. Jadi kita, umat Nabi mengambil kerja
Nabi, hanya semata-mata sebagai wakil, karena tidak ada Nabi lagi yang turun
untuk memperbaiki syariat. Jadi, karena warisan, bagi yang tau, bagi yang mau
saja. Tidak ada paksaan.
Allah perintahkan dalam al-Qur'an ;
وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى
ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ
هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٠٤
"Hendaklah ada diantara kamu (Ya ummata Muhammadin), yang mengajak
kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari kemungkaran.
Merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran [3] ayat 104).
Jadi orang yang beruntung, adalah orang yang mengambil kerja dakwah ini.
Kalau kita berfikir tentang dakwah, terkadang yang terpikir adalah orang lain.
Yang terpikir adalah obyek dakwah. Padahal, hakikat dakwah adalah untuk islah
diri. Karena dengan dakwah, hanya dengan jalan dakwah, seseorang bisa menjadi
lebih baik. Ada perbaikan iman dan amal. Orang yang berilmu, orang alim, jika
tidak dakwah, maka ilmunya akan menggelap hati. Sedangkan orang dakwah, walau
ilmunya sedikit, walau miskin-miskin, walau bodoh-bodoh, maka Allah akan
menerangi hatinya. Namun demikian meski berdakwah, mengajak manusia pada Allah,
hakikat dan tujuannya semata-mata perbaikan diri. Lingkungan, orang-orang di
sekitar kita, semuanya dalam genggaman dan pengawasan Allah. Jika Allah
kehendaki semuanya taat, semuanya menjadi orang baik, ini mudah saja bagi
Allah. Allah bisa menjadikan makhluk-makhluk punya sifat taat seperti para
Malaikat. Selalu bertasih, memuji Allah. Taat dengan semua kehendak Allah.
Namun, Allah memberikan kesempatan ini kepada manusia. Apakah mau ikuti
perintah-perintah Allah, atau mengabaikannya.
Sebenarnya, setiap orang mengetahui perintah dan larangan Allah. Karena
lemahnya iman yakin pada Allah, pasang-surutnya iman, perintah Allah terasa
berat dilakukan. Shalat misalnya. Seluruh muslim, paham kewajiban shalat.
Mengapa banyak tetangga, teman, kenalan yang nyata-nyata tidak mengerjakan
shalat. Padahal, jika meninggakan shalat, maka namanya sudah ada di Neraka.
Tertulis di sana. Karena iman yang lemah. Bahkan kadang anggota keluarga
sendiri malah tidak shalat. Lebih aneh lagi, kalau kalangan berilmu, tau agama,
malah ada tidak mau shalat. Sekalipun shalat, hanya dikerjakan di rumah saja.
Karena memang ilmu hanya sebagai penghantar saja. Sebagai pengetahuan, untuk
memahami shalat. Ada pun yang menggerakkan agar mau shalat, adalah iman. Iman
yang kuat, perintah-perintah Allah seperti shalat, mudah dilakukan tanpa perlu
diawasi orang lain.
Kalau kita sering mendakwahkan kebesaran Allah, keagungan Allah, maka
jika terus diulang-ulang, akan masuk ke dalam hati. Karena apa yang kita
ucapkan dalam dakwah, pasti telinga kita lebih dekat dengan apa yang kita
ucapkan sendiri. Kalau sudah muncul sifat ini, maka diri kita akan lebih mudah
menerima perintah-perintah Allah. Sifat takwa terus tumbuh. Sehingga gairah
amal-ibadah akan meningkat. Perbaikan yang sebenarnya, akan terwujud.
يَآ أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلًا
سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ.
Bertakwalah pada
Allah. Ucapkan dengan teguh kalimat la ilaha illallah (perkataan Tauhid) . Maka
akan diperbaiki amal-amalmu, dan diampuni dosa-dosamu. Dengan cara beriman
kepada Allah, lalu berdakwah, akan diampuni dosa-dosa. Akan dicuci. Segala
bentuk kemusyrikan, perlahan akan dikikis. Sehingga para alim-ulama katakan,
taubat yang sesungguhnya adalah dengan cara berdakwah. Karena akan ada balasan
berupa surga. Sedangkan orang yang berhak atas surga, adalah yang bersih-bersih
saja.
Dalam waktu yang
sebentar ini, nisab 3 hari ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Antara lain ;
Niat perbaikan
aqidah,
Niat perbaikan
ibadah,
Niat perbaikan
mu’amalah,
Niat perbaikan
mu’asyarah, dan
Niat perbaikan
akhlaq.
Niat perbaikan aqidah. Perbaikan aqidah hanya dengan berdakwah. Sebab,
jika diibaratkan kita sebagai penjual barang (sales-marketing), kita harus
yakin, kalau barang ini berguna. Yakin, kalau barang ini juga akan laku. Jadi,
harapannya, setelah ada di sini 3 hari, keyakinan kepada Allah semakin
bertumbuh mantap. Aqidah kita, yakin kalau Allah Maha Pencipta-Maha Merajai-
dan Maha Pemberi Rezeki. (Allah Khaliq-Allah Malik-Allah Raziq). Kita
ulang-ulang kalam dakwah.
Apabila dalam program jaulah, di jalan melihat rumah megah, tidak
terkesan. Baca do'a agar kemewahan rumah orang, tidak masuk dalam hati. Banyak
dzikrullah, yakinkan hati, kalau kemewahan itu Allah yang berikan. Di akhirat,
kita akan lebih kaya lagi, lebih mewah dari rumah sebesar apa pun di dunia
ini.
Niat perbaikan ibadah. Ibadah adalah penunjang dakwah. Ibadah bukan hanya
sekedar menggugurkan kewajiban. Dalam masa 3 hari ini, ibadah sunnah perlu
ditingkatkan. Yang malas tahajud, jadi tambah rajin, karena dibantu dengan
suasana di sini. Kemudian yang belum bergairah baca al-Qur'an, maka jadi tambah
semangat. Kita perbanyak ibadah, terutama amalan sunnah.
Ketiga, perbaikan mu'amalah. Mu'amalah adalah hubungan sesama manusia,
yang menyangkut ekonomi. Misalnya jual beli, bekerja, hutang-piutang, pinjam-meminjam.
Intinya ada hubungan soal ekonomi. Jadi, harapannya, dengan belajar, tau
hukum-hukum dan adab dalam Islam, soal ekonomi. Misalnya, setelah pulang dari 3
hari, segera berusaha melunasi hutang-piutang. Karena hutang, adalah separuh
jiwa. Artinya, jika kita berhutang, maka ada rasa takut kepada pemberi hutang.
Contoh lain, misalnya berdagang. Harapannya, dalam usaha jual-beli,
meninggalkan cara-cara haram dalam mencari harta. Curang dalam timbangan, dan
lain-lain. Harta haram, adalah pengundang bencana, pembuat do'a menjadi tidak makbul.
Lalu, berikutnya, mu'asyarah. Perbaikan ini, menyangkut perbaikan dalam
pergaulan. Jadi, tinggalkan orang-orang yang berperilaku buruk dalam keseharian
kita. Kecuali, ada niat yang kuat dalam hati, agar bisa menyampaikan dakwah.
Mu'asyarah penting, karena lingkungan pergaulan, berpengaruh pada jiwa
seseorang. Jangankan dengan manusia, bergaul dengan hewan saja, berpengaruh.
Rasulallah Saw pernah contohkan, penggembala kambing jiwanya akan lebih lembut,
daripada penggembala kuda atau unta. Penggembala kuda dan unta, akan tercemar
dengan sifat ternaknya yang terkesan; besar, kuat, dan tangguh. Jadi menurut
baginda Rasul, bergaul dengan kuda dan unta, saja dapat mewarnai kejiwaan
seseorang, sehingga tampak merasa lebih gagah, lebih perkasa.
Juga, dalam mu'asyarah pada lingkungan keluarga. Sayang istri, hargai
anak, wujudkan silaturahmi pada tetangga. Terutama menjenguk orang yang sedang
sakit. Da'i adalah contoh. Suri tauladan. Perbaikan pada hubungan-mu'asyarah, tentu
sangat penting. Jangan sampai dianggap sebagai angkuh, dan mau menang sendiri.
Terutama, tinggalkan perdebatan. Karena, berdebat hanya akan membuat hidayah
lari. Allah benci orang yang bertikai. Kata Syech abdul Qodir Jailani
rahmatullah 'alaihi, "berdebat dengan orang jahil, hanya akan mengeraskan
hati, dan memperbanyak dosa saja."
Terakhir, adalah akhlaq. Adab seseorang, lebih dihargai daripada ilmu
seseorang. Ketinggian ilmu seseorang,
karena punya etika yang baik dalam pergaulan. Sayang kepada yang muda,
hormat kepada yang lebih tua. Bersifat rendah diri, pada ulama. Masyayikh kita
berpesan, agar menghormati 4 kelompok orang; ulama (ahli ilmu agama), ahli
dzikir-ibadah, ahli tasawuf (tarikat), dan hafidz al-Qur'an. Mereka-mereka ini
adalah pasak atau tiang suatu kampung. Sebagus apa pun dakwah seseorang, jika
melecehkan ulama atau tokoh yang dihormati, maka akan dilawan dakwah oleh para
pengikutnya. Jadi penting untuk menjaga tertib dakwah dengan menghargai mereka.
Duduk di majelis-majelis mereka. Sebagai perbaikan adab atau akhlak, setelah 3
hari program ini. Baginda Rasul Saw berdakwah dengan akhlaknya.
Manfaat dari program 3 hari ini akan sangat terasa di dunia. Jika dijaga,
diamalkan dengan sungguh-sungguh. Lalu,
apa balasannya, apa untungnya jika kita taat pada Allah, cinta rasul,
menghormati sahabat, dan beramal soleh? Ampunan Allah, akan diminumkan
Rasulallah Saw, dari tangan beliau sendiri saat di telaga Al-Kaustar. Didunia,
akan timbul zuhud dalam mengarungi hidup. Dan wara' dalam agama. Allah akan
sayang, akan bantu semua kesulitan dalam hidup kita.
Tidak ada komentar: