Bayan Syuro H. Cecep Firdaus : Maksud Hidup Manusia
Asalaamu’alaikum Wr Wb
Di dunia ini ada berbagai macam usaha, ada yang namanya
usaha perdagangan, pertanian, pertokoan, perindustrian, perbaikan kesehatan,
dan lain-lain. Namun dari sekian banyak usaha yang ada, usaha yang paling
tinggi, yang paling mulia, dan paling bernilai disisi Allah adalah usaha para
Nabi. Usaha Nabi ini adalah usaha pilihan. Sehingga begitu tingginya, begitu
mahalnya, begitu mulianya usaha para Nabi ini maka hanya orang-orang tertentu
saja yang bisa menjalankan usaha ini dan jumlahnya tidak banyak. Jadi orang
yang bisa menjalankan tugas ini hanyalah orang-orang pilihan Allah saja.
Sedangkan usaha selain usaha Nabi ini jumlah orang yang terlibat di dalamnya
sangat banyak bahkan tidak terhitung jumlahnya. Dari jaman Nabi Adam AS sampai
sekarang berapa banyak yang menjadi petani, pedagang, pengusaha, pejabat,
dokter, bahkan raja sekalipun ? jawabnya jumlahnya banyak, tidak terhitung.
Tapi usaha Nabi ini jumlah orang yang mengambilnya terbatas hanya ada 124.000
Nabi.
Kalau
usaha-usaha yang lain objek dari usahanya adalah kebendaan. Seperti :
1.
Pertanian : Object usahanya adalah tanaman
2.
Perdagangan : Object usahanya adalah barang
3.
Industri : Object usahanya adalah bahan olahan
4.
Teknologi : Object usahanya adalah mesin / alat
5.
Dan lain-lain
Tetapi usaha nabi ini berbeda dengan usaha-usaha yang lain,
objek usahanya bukan kebendaan, objek usahanya adalah manusia. Medan kerja
daripada para Nabi itu adalah manusia. Bekerja atas manusia, inilah pekerjaan
yang paling tinggi. Karena kedudukan manusia dalam kehidupan ini seperti
jantung pada badan manusia atau seperti kedudukan hati dalam badan kita. Sebagaimana
Nabi sabdakan kepentingan daripada hati ini, dalam hadits mahfum :
“
Dalam setiap tubuh manusia ini ada segumpal daging. Kalau daging ini baik maka
akan baik seluruh tubuhnya. Kalau daging ini buruk maka akan buruk seluruh
tubuhnya. “ (Al Hadits )
Apakah yang dimaksud dengan segumpal daging itu ? itulah
Hati. Kalau hati manusia itu baik, maka akan baik seluruh amal perbuatannya.
Kalau hati manusia itu buruk, maka akan buruk seluruh amal perbuatannya.
Begitulah kehidupan yang baik dan tidak baik dalam dunia ini bukan disebabkan
karena kemajuan dari pada kebendaan-kebendaan tetapi bergantung pada
manusianya. Kalau manusia ini baik maka dunia ini akan menjadi baik keadaannya.
Kalau manusia ini buruk maka dunia ini akan menjadi buruk keadaannya. Untuk memperbaiki
keadaan di dunia, para Nabi membuat usaha perbaikan atas manusia. Sebab
keburukan-keburukan yang ada atau yang terjadi di dunia ini akibat daripada
amal-amal buruk manusia. Firman Allah Mahfum :
“Telah
terjadi kerusakan-kerusakan di daratan dan di lautan di sebabkan oleh perbuatan
(amal buruk) manusia.” (Al Qur’an )
Orang menyebutkan sekarang ini jaman kemajuan. Padahal
kalau diperhatikan kemajuan yang ada pada jaman ini adalah kemajuan daripada
kebendaan. Kalau kita perhatikan manusianya sendiri telah merosot kepada
derajat yang sangat rendah dan hina. Kebendaan diperjuangkan oleh manusia pada
hari ini, dari tidak berharga menjadi berharga, dari tidak bermanfaat dari
bermanfaat, dari tidak indah menjadi indah. Inilah kerja manusia di jaman ini, yaitu
merobah memajukan daripada kebendaan. Tapi manusia tidak sadar, dirinya sendiri
telah merosot menjadi rendah dan hina. Ini terjadi karena kita sudah
meninggalkan daripada usaha kenabian yaitu usaha perbaikan atas pada manusia.
Yang mana usaha kenabian ini telah diamanahkan, dan diwariskan kepada ummat
Nabi Muhammad SAW.
Setelah Nabi SAW wafat sampai hari
kiamat tidak akan ada lagi Nabi, tetapi usaha kenabian ini harus tetap ada. Dan
usaha ini karena Nabi SAW sudah tidak, maka telah dilimpahkan kepada kita semua
yang mengaku sebagai ummat Nabi SAW. Tetapi masalahnya kita sudah meninggalkan
daripada usaha ini, sibuk atas kebendaan-kebendaan. Sehingga kebendaan pada
jaman ini mengalami kemajuan daripada jaman-jaman sebelumnya. Namun manusianya
telah merosot hingga kederajat yang rendah dan hina. Hanya tampang dan jasadnya
saja manusia, tetapi akhlaqnya dan amal perbuatannya merosot hingga menjadi
seperti hewan, bahkan lebih rendah dan lebih hina daripada hewan.
Maulana Said Ahmad Khan, seorang
ulama, yang tinggal di Madinah menceritakan dulu di Madinah ada seorang ulama
dia bermimpi berada di pasar. Dan di pasar itu banyak barang-barang diperjual
belikan dan banyak juga manusia hilir mudik sebagai penjual dan pembeli. Namun
di dalam mimpinya itu, ketika ulama ini menghadapkan wajahnya, melihat ke
langit, dilihatnya langit itu seperti cermin memantulkan bayangan yang ada
dibawah. Semua barang-barang yang diperjual belikan dibawah ini yaitu
dipasarnya, semuanya ada terlihat di cermin tersebut. Tetapi yang heran,
manusia-manusia yang sebagai penjual dan pembeli yang ada disitu, tidak ada
atau tidak nampak pada cermin itu, yang ada hanya hewan-hewan. Yang ada pada
cermin dilangit itu adalah monyek, ular, babi, dan lain sebagainya. Maka
keesokan harinya si ulama ini pergi bertanya pada ulama yang lain mengenai apa
arti atau makna mimpi tersebut. Ulama yang ditanya menjawab bahwa itulah
manusia di jaman sekarang, jasadnya manusia tetapi hati dan akhlaqnya sudah
berubah menjadi seperti binatang.
Manusia kalau tidak diperjuangkan
maka dia akan merosot menjadi rendah dan hina. Kata Ulama karena manusia ini
diciptakan daripada unsur tanah, maka manusia ini mempunyai kesamaan sifat
dengan tanah. Apa sifat tanah ?
Tanah
kalau tidak digarap mempunyai 4 fase :
1.
Fase ditumbuhi rumput-rumputan –> Binatang ternak : sapi, kambing
2.
Fase ditumbuhi ilalang / semak belukar –> Binatang buas : singa, macan,
srigala
3.
Fase ditumbuhi pepohonan –> Binatang perusak : monyet, babi
4.
Fase Hutan Belantara –> Binatang berbisa : ular, kalajengking
Kalau tanah ini tidak digarap atau
diusahakan maka diatasnya akan tumbuh rumput-rumputan. Kalau diatas tanah itu
tedapat rumput-rumputan maka yang datang kepada tanah itu adalah binatang
ternak, seperti : kambing, sapi, kerbau, yaitu pemakan rumput. Begitulah
keadaan manusia ini kalau tidak diperjuangkan, dia sifatnya akan seperti
binatang ternak. Apa sifat binatang ternak ? sifat binatang ternak itu “Egois”
dan dzikirnya “Makan”. Hanya memikirkan makan saja, sehari-hari hanya
memikirkan makan saja. Dan ketika makan itu dia tidak akan memikirkan nasib
teman-temannya., tetangganya, kerabatnya, yang penting dia kenyang sendiri.
Ketika makan dia tidak punya ethic atau adab, ini rumput dia atau rumput
temannya sama saja. Apa yang dia suka itu yang di makan, walaupun rumput itu
ada didepan temannya. Kalau temannya kelaparan dia tidak ada niat untuk memberi
atau mengasih kepada yang kelaparan itu. Dia tetap saja akan makan sendiri.
Kalau ada temennya sakit tidak ada usaha untuk menengok atau mengusakan kesembuhan
untuk temannya. Kalau sama-sama diperjalanan, kawannya membawa beban yang
berat, sehingga kawannya terjatuh tidak kuat berjalan, dia tidak akan berhenti
dan menolong temannya yang terjatuh atau memindahkan beban barang untuk
ditanggung sebagian. Dia akan tinggalkan kawannya dan terus berjalan tidak
peduli dan tidak acuh pada penderitaan temannya. Walaupun kawannya jatuh dan
mati dia tidak akan ambil peduli. Itulah sifat daripada binatang ternak.
Begitulah kata ulama jika manusia ini tidak diperjuangkan, maka akhlaq atau
sifatnya akan menurun menjadi seperti binatang ternak. Dia hanya akan
mementingkan diri sendirinya saja, tidak peduli kepada yang lain, yang penting
dia kenyang sendiri dan senang sendiri, yang lain susah tidak perlu dipikirkan.
Tidak ada program untuk menolong atau membantu teman atau tetangga yang
kesusahan, hanya mementingkan diri sendiri saja. Orang lain mederita atau sakit
tidak ada usaha untuk menengok, menghibur, atau menyembuhkannya. Orang lain
bebannya berat tidak peduli atau tidak mau menolong membantu meringankan
daripada kesusahannya. Kalau kita lihat manusia-manusia yang seperti ini sudah
wujud atau sudah ada di dunia ini. Dan sudah banyak yang akhlaqnya seperti ini.
Kalau tidak diperjuangkan lagi,
tidak digarap, maka padang rumput itu akan berubah menjadi semak belukar,
menjadi padang alang-alang. Dan ketika sudah berubah menjadi padang ilalang
maka yang akan datang adalah bukan lagi binatang ternak, tetapi binatang buas
seperti singa, harimau, srigala. Binatang buas seperti itu suka pada padang
ilalang. Dan sifat-sifat binatang buas ini lebih buruk daripada sifat binatang
ternak. Kalau binatang ternak tadi sifatnya egois, mementingkan diri sendiri,
tetapi dia tidak merusak kepada yang lain. Kalau binatang buas ini untuk kepentingan
dirinya, untuk mengenyangkan dirinya, dia binasakan hewan yang lain. Singa ini
menerkam kuda, kambing, kerbau, rusa, menerkam binatang-binatang yang lain,
untuk memenuhi daripada kebutuhannya. Maka begitu juga jika diri manusia ini
jika tidak diperjuangkan maka dia akan merosot akhlaqnya seperti akhlaq
binatang buas. Untuk kepentingan dirinya dia hancurkan yang lain, dan dia
binasakan yang lain. Yang semacam ini sudah kita lihat banyak pada diri manusia
saat ini. Bentuknya manusia tetapi sifatnya seperti binatang buas. Pekerjaannya
membinasakan, menghancurkan, menyusahkan kehidupan daripada yang lainnya, untuk
kepentingan dari pada dirinya.
Jika tanah itu tidak digarap lagi maka yang tumbuh berikutnya setelah padang ilalang akan tumbuh pohon-pohon yang tinggi-tinggi. Kalau pohon yang tinggi-tinggi sudah tumbuh, maka akan masuk ke hutan yang semacam itu binatang-binatang jenis perusak. Seperti monyet, babi, yang sukanya ditempat yang semacam itu. Binatang ini adalah sifatnnya lebih buruk daripada binatang buas. Kalau binatang buas itu seperti singa kalau udah kenyang makannya, maka dia tidak akan mengganggu yang lain. Walaupun kerbau lewat di hadapannya, ada disampingnya, dia tidak akan terkam, kalau sudah kenyang dia cukup. Begitu juga jenis buaya, kalau lapar datang ke kubangan tempat kerbau minum air, maka dia akan terkam kerbau yang ada disitu, lalu dimakan ramai-ramai. Kalau buaya ini sudah kenyang maka walaupun kerbau itu mandi sama-sama dengan buaya tidak akan di terkam, dan tidak diganggu. Tetapi kalau binatang perusak semacam monyet dan semacam babi tidak seperti itu. Kalau monyet atau babi ini datang ke kebon orang, mungkin yang dimakan tidak banyak, tetapi satu kebun diacak-acak oleh dia walaupun tidak dimakan. Itulah sifat binatang perusak. Maka para petani banyak dijengkelkannya dan dirugikannya. Kalau hanya sekedar untuk makan si monyet dan si babi, bagi petani tidak jadi masalah, tetapi masalahnya walaupun sudah cukup makan tetapi yang lain dirusaknya semua. Hari ini manusiapun sudah banyak yang bersifat seperti itu. Tidak cukup dengan mengenyangkan isi perutnya saja, tetapi baru puas ketika melihat orang lain susah, melihat orang lain sengsara. Jika kita tidak berjuang atas manusia maka akan timbul manusia yang seperti ini.
Jika tanah itu tidak digarap lagi maka yang tumbuh berikutnya setelah padang ilalang akan tumbuh pohon-pohon yang tinggi-tinggi. Kalau pohon yang tinggi-tinggi sudah tumbuh, maka akan masuk ke hutan yang semacam itu binatang-binatang jenis perusak. Seperti monyet, babi, yang sukanya ditempat yang semacam itu. Binatang ini adalah sifatnnya lebih buruk daripada binatang buas. Kalau binatang buas itu seperti singa kalau udah kenyang makannya, maka dia tidak akan mengganggu yang lain. Walaupun kerbau lewat di hadapannya, ada disampingnya, dia tidak akan terkam, kalau sudah kenyang dia cukup. Begitu juga jenis buaya, kalau lapar datang ke kubangan tempat kerbau minum air, maka dia akan terkam kerbau yang ada disitu, lalu dimakan ramai-ramai. Kalau buaya ini sudah kenyang maka walaupun kerbau itu mandi sama-sama dengan buaya tidak akan di terkam, dan tidak diganggu. Tetapi kalau binatang perusak semacam monyet dan semacam babi tidak seperti itu. Kalau monyet atau babi ini datang ke kebon orang, mungkin yang dimakan tidak banyak, tetapi satu kebun diacak-acak oleh dia walaupun tidak dimakan. Itulah sifat binatang perusak. Maka para petani banyak dijengkelkannya dan dirugikannya. Kalau hanya sekedar untuk makan si monyet dan si babi, bagi petani tidak jadi masalah, tetapi masalahnya walaupun sudah cukup makan tetapi yang lain dirusaknya semua. Hari ini manusiapun sudah banyak yang bersifat seperti itu. Tidak cukup dengan mengenyangkan isi perutnya saja, tetapi baru puas ketika melihat orang lain susah, melihat orang lain sengsara. Jika kita tidak berjuang atas manusia maka akan timbul manusia yang seperti ini.
Kalau tanah dibiarkan lagi tidak
digarap, maka hutan ini akan menjadi hutan belantara, tumbuh pohon-pohon besar
yang rindang-rindang sehingga menyebabkan hutan menjadi lembab dan sinar
matahari tidak dapat masuk. Maka di tempat-tempat seperti ini akan hidup
binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan sebagainya. Sifat
binatang ini lebih buruk daripada sifat binatang lainnya tadi. Seperti ular
jika dia mematuk binatang yang lain bukan untuk dimakan tetapi hanya untuk
kebanggaan saja. Jika ular itu mematuk kerbau, maka tidak untuk dimakan kerbau
itu, tetapi si ular bangga bisa membunuh kerbau yang besar dengan bisanya itu.
Kerbau tersebut ditinggalkan begitu saja dan tidak dimakan oleh si ular. Hanya
untuk kebanggaan, hanya untuk kesenangan, hanya untuk kepuasan hati,
dibinasakannya binatang-binatang yang lain oleh ular. Begitu juga jika manusia
tidak diperjuangkan akan sampai ke tahap itu. Manusia macam ini hanya untuk
iseng saja demi kesenangan dia semata, mampu membinasakan, merugikan, dan
menghancurkan daripada yang lain. Dan orang-orang yang semacam inipun sudah
banyak di dunia ini. Inilah yang terjadi jika kita meninggalkan usaha atas diri
manusia ini.
Salah seorang professor di bandung
mengkritik tentang pola kehidupan orang-orang di jakarta. Dia katakan bahwa di
jakarta ini masyarakatnya berlapis-lapis, bertingkat-tingkat. Tetapi pada
umumnya kata dia semuanya hanya fikir makan saja di semua lapisan. Lapisan
lapisan itu adalah :
1.
Lapisan Bawah ( Penghasilan kurang : kuli, tukang becak, pegemis ) : “Besok saya
bisa makan atau tidak ? saat itu dapat makan, saat itu dihabisin makanannya,
tergantung penghasilannya hari itu.
2.
Lapisan Menengah ( Penghasilan cukup ) : “Besok makan apa kita ?”mungkin karena
sudah bosan tidak mau memakan makanan yang sama, harus beda tiap harinya. Hari
ini makan sayur asam, besok dia fikir bagaimana mendapatkan sop. Jadi ada
makanannya hanya jenisnya yang lain.
3.
Lapisan Atas ( Penghasilan orang yang Kaya ) :”Besok akan makan dimana kita ?”
sudah bosan di restoran ini dia akan cari restoran yang lain, tidak bisa makan
di restoran yang sama tiap harinya.
4.
Lapisan Akhir ( Penghasilan dari Kedzoliman ) : “Besok siapa lagi yang bisa gua
makan ?” Dia fikir makan tetapi dari mendzolimi orang lain. Tiap hari yang
dipikirin bagaimana makan orang ? artinya bagaimana dia dapat memeras orang
atau dapat menggencet orang ? otaknya otak kriminal, maunya menyusahkan orang
lain, bahkan orang macam ini jangankan teman, keluarganyapun dia makan.
Ali Karamallah Wajhahu berkata
kalau manusia itu fikirnya hanya memikirkan apa yang akan masuk kedalam
perutnya maka derajatnya disisi Allah sama dengan apa yang telah dikeluarkan
dari perutnya. Beginilah hasilnya jika manusia tidak diperjuangkan yaitu mereka
akan menjadi rendah dan hina. Derajatnya di sisi Allah seperti apa yang
dikeluarkan perutnya yaitu kotoran, tidak ada nilai, rendah, bahkan tidak
pantas untuk dilihat atau dipandangi. Hari ini banyak orang-orang yang
menganggap bahwa kehidupan orang-orang kafir itu tinggi, padahal kalau
diperhatikan kehidupan mereka tidaklah tinggi seperti yang mereka perkirakan.
Sifat daripada orang kafir yang tidak beriman ini, kehidupan daripada
keduniaannya itu tinggi-tinggi, tetapi fikirnya daripada orang kafir itu
rendah. Jadi orang kafir ini keduniaannya tinggi, namun fikirnya rendah. Orang
kafir ini pola kehidupan yang ideal bagi mereka adalah rumah yang bagus,
pakaian yang indah, mobil yang mewah, makanan yang enak, tetapi fikirnya rendah
yaitu fikir kebendaan saja. Namun orang beriman ini kehidupan daripada keduniaannya
rendah-rendah, tetapi fikirnya tinggi. Orang beriman ini pola kehidupannya
sangat sederhana dari makanan, pakaian, transportasi, rumahnya, tetapi fikirnya
tinggi. Bagaimana fikirnya orang beriman ? yaitu bagaimana dirinya dan seluruh
manusia dapat selamat dari adzab Allah di dunia dan di akherat. Itulah fikir
dan sifat atau pola hidup daripada orang beriman.
Kejadian-kejadian
yang ada di dunia ini yang disebabkan oleh manusia yang telah menjadi rendah
akhlaq dan prilakunya adalah tanggung jawab kita semua, selaku umat Rasullullah
SAW. Karena kita telah tinggalkan daripada usaha atas manusia maka hal-hal yang
semacam : saling bunuh membunuh, saling memerangi, saling merampok, telah
terjadi pada manusia saat ini. Sehingga susah mendatangkan kedamaian dan
keamanan yang hakiki. Ini karena kita telah tinggalkan usaha kenabian ini.
Kalau usaha kenabian ini dihidupkan lagi maka manusia akan naik derajatnya
disisi Allah. Seperti ketika sebelum diutusnya Rasullullah SAW, kehidupan di
Hijaj sangat rendah sekali, sudah seperti kehidupan hewan saja. Bunuh membunuh,
terkam menerkam, satu sama lain sudah menjadi biasa. Bahkan sifat dan kelakuan
mereka sudah lebih rendah daripada binatang ternak, lebih rendah daripada
binatang buas, lebih rendah daripada binatang perusak, bahkan lebih rendah
daripada binatang berbisa. Itulah kehidupan jahilliayah di mekah sebelum
kedatangan Nabi SAW. Kata Ulama untuk berjudi saja, dipertaruhkan nyawa
manusia., mereka bertaruh main tebak-tebakan mengenai isi kandungan dari wanita
hamil yang baru saja lewat didepan mereka, “Apakah janin yang ada dalam perut
wanita hamil itu adalah laki-laki atau perempuan ?” Untuk membuktikan ini, si
perempuan itu dibelah perutnya, dibunuh hanya untuk iseng saja, dijadikan medan
perjudian. Kehidupan manusia hanya dijadikan sebagai bahan permainan. Biasa
saja bagi mereka membinasakan, dan mensengsarakan daripada kehidupan orang
lain. Begitu buruknya kehidupan manusia saat itu.
Sehingga Allah utus Rasullullah SAW
untuk membuat usaha atas mereka yang kehidupannya sudah begitu rendah.
Diusahakan secara terus menerus oleh Nabi SAW, maka kehidupan mereka meningkat,
yang jasadnya manusia tetapi sifatnya adalah sifat malaikat. Apa itu sifat
malaikat ? yaitu taat pada Allah SWT, hanya menjalankan perintah Allah saja,
kerjanya ibadah saja kepada Allah. Ini karena malaikat itu tidak punya nafsu,
mereka tidak makan, tidak minum, tidak tidur, tidak punya istri, kerjanya hanya
ibadah saja kepada Allah. Manusia ini kalau diperjuangkan bukan dia berarti dia
berubah menjadi malaikat tetapi maksudnya dia akan memiliki sifat malaikat,
yaitu sifat taat kepada Allah SWT. Jadi Malaikat ini diciptakan hanya untuk
beribadah kepada Allah Ta’ala saja, taat saja tidak bisa yang lainnya. Dan
untuk ini pula manusia diciptakan oleh Allah Ta’ala, dalam Mahfum Firman Allah
:
“Tidaklah
Aku ciptakan Jin dan Manusia melainkan untuk beribadah (menngabdi) kepadaKu.”
Ini akan terjadi jika manusia ini
diusahakan dengan usaha atau kerja kenabian. Rasullullah SAW telah berhasil
merubah mereka dari mempunyai sifat kehewanan yang wujud dalam diri mereka
meningkat menjadi memiliki sifat malaikat. Sehingga sahabat-sahabat RA menjadi
terasa nikmat dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Walaupun jasadnya jasad
manusia tetapi sifatnya seperti malaikat. Banyak diantara sahabat RA yang
mengorbankan sifat hewannya. Mereka banyak mengurangi makannya dan mengurangi
tidurnya demi memperbanyak beribadah kepada Allah Ta’ala. Banyak diantara
mereka sedikit saja tidurnya diwaktu malam karena mereka menggunakan waktu malamnya
hanya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahkan ada diantara mereka yang
semalam suntuk tidak tidur hanya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Itu dapat
terjadi setelah diusahakan oleh Nabi SAW dengan usaha kenabian maka telah
terjadi perubahan dalam diri mereka. Walaupun jasadnya jasad manusia tetapi
sifatnya seperti sifat malaikat.
Nabi SAW terus lagi dan lagi
mengusahakan manusia ini agar meningkat derjatnya. Sehingga naik lagi
derajatnya yang tadinya hanya memiliki daripada sifat malaikat yaitu hanya
sifat taat saja, menjadi memiliki sifat khilafah, kekhalifahan. Untuk ini pula
Allah ciptakan manusia dimuka bumi yaitu sebagai Khalifah Allah di muka bumi
ini. Sebagaimana Allah ceritakan dalam Al Qur’an, Allah berfirman mahfum :
“Waktu
Allah berkata kepada para malaikat-malaikatnya : Aku akan ciptakan dimuka bumi
khalifah yaitu manusia “
Maksud diciptakan manusia ini yaitu
sebagai Khalifatullah, Khalifah atau Wakil Allah, di muka bumi. Dan maksud
dijadikan sebagai Khalifatullah ini bukan ditafsirkan sebagaimana kebanyakan
orang yang menyangka menjadi penguasa. Tetapi maksud dari menjadi khalifatullah
ini adalah mewakili sifat-sifat Allah dimuka bumi. Kalau dengan ibadah ini
mewakili sifat malaikat tetapi dengan menjadi khalifah ini mewakili sifat Khaliq
atau sifat Allah SWT, daripada sifat JamalNya. Allah SWT mempunyai 99 sifat
atau nama. Dari sifat-sifat atau nama-nama ini terbagi menjadi 2 bagian yaitu
ada Sifat JamalNya Allah dan ada Sifat JalalNya Allah. Yand dikehendaki oleh
Allah dari diri manusia ini adalah mewakili daripada sifat JamalNya Allah
Ta’ala, bukan Sifat JalalNYa Allah Ta’ala. Ini karena sifat JalalNya Allah
Ta’ala adalah sifat kebesaranNNya Allah Ta’ala yaitu sifat sombong dan takabur,
ini hanya boleh dimiliki oleh Allah Ta’ala saja, tidak boleh ditiru oleh
manusia atau mahluk lainnya. Seperti sifat memaksa, Al Kohar, sifat tinggi /
mulia, Al Muttakabbir, ini sifat JalalNya Allah Ta’ala. Tetapi yang Allah
perintahkan kepada kita adalah meniru, mewakili, daripada sifat-sifat JamalNya
Allah Ta’ala, yaitu sifat Rahman dan RahimNya Allah Ta’ala. Seperti sifat
pengasih dan penyayangNya Allah Ta’ala, lemah lembut, pemaaf, penolong,
penjaga, pemberi, sifat ini yang harus kita tiru. Maksud dijadikannya kita
sebagai khalifah adalah agar kita bisa mewakili sifat-sifat Allah ini dimuka
bumi. Allah itu pemberi, maka sebagai wakil Allah kitapun harus mempunyai sifat
pemberi juga. Allah itu penyayang, maka kita juga harus mempunyai sifat
penyayang. Allah itu penjaga maka kitapun juga harus mempunyai sifat menjaga
bukannya merusak. Allah itu mempunyai sifat penolong maka kitapun juga harus
suka menolong yang lainnya. Allah itu pemaaf, maka kitapun juga harus bisa
menjadi pemaaf. Allah itu mempunyai sifat menutupi kesalahan orang, maka
kitapun juga harus bisa menutupi kesalahan orang. Sifat-sifat inilah yang
dikehendaki oleh Allah, yang harus dimiliki oleh manusia. Namun ini akan
terjadi kalau ada yang melanjutkan usaha kenabian atas manusia.
Setelah Nabi SAW buat kerja secara
terus menerus, menjalankan usaha kenabian ini, maka nampaklah perubahan dalam
diri manusia. Sehingga manusia-manusia yang jahil tadi berubah, dari yang
tadinya mempunyai sifat membinasakan orang lain menjadi mempunyai sifat suka
menyelamatkan orang lain. Sahabat-sahabat Itu, mereka mempunyai sifat yang
tinggi, mereka rela menyusahkan dirinya untuk kepentingan daripada
menyelamatkan dan menyenangkan orang lain. Banyak diceritakan dan ditulis dalam
kitab-kitab Agama kisah-kisah tentang perbuatan dan akhlaq sahabat yang mulia.
Bahkan Allah telah memuji sifat-sifat mereka di dalam Al Qur’an. Keadaan ini
dapat terjadi setelah Nabi SAW berjuang atas perbaikan dalam diri mereka.
Menurut ulama, dengan sifat ibadah ini adalah menarik apa yang kita inginkan
daripada Khazanah Allah. Menarik apa yang ingini daripada Khazanah Allah itu
adalah yang namanya ibadah. Melalui sholat, puasa, doa, mohon kepada Allah apa
yang kita inginkan daripada khazanah Allah itulah yang dinamakan ibadah. Adapun
dengan akhlaq, yaitu dengan sifat kekhalifahan, kita memberi kepada yang lain.
Jadi menurut ulama :
1.
Meminta kepada Allah itu :
Namanya
Ibadah ( Mewakili Sifat Malaikat ) : Sholat, Puasa, Do’a
2.
Memberi kepada mahluk :
Namanya
Akhlaq ( Mewakili Sifat Kekhalifahan ) : Sedekah, Khidmat, Maaf
Jadi
diciptakannya manusia ini untuk Ibadah yaitu mengabdi dan taat hanya kepada
Allah. Dan diciptakan manusia juga untuk Kekhalifahan yaitu untuk akhlaq atau
mewakili sifat-sifat JamalNya Allah. Allah itu senang kalau kita minta dan
terus kita memohon kepadaNya. Sedangkan mahluk itu akan senang kalau kita beri,
kalau kita bantu, kalau kita tolong, kalau kita maafkan, kalau kita sayangi.
Kalau kita sudah memiliki sifat itu maka kita akan disenangi oleh Allah dan
disenangi oleh mahluk lain.
Note
Penulis :
1.
Asbab Kemuliaan adalah Meminta pada Allah dan Memberi pada Manusia
2.
Asbab Kehinaan adalah Lari dari Allah dan Meminta pada Manusia
Asbab
kemuliaan itu adalah jika Allah memberi kita kekuatan untuk berdo’a dan selalu
dalam keadaan bergantung dan meminta kepada Allah. Sedangkan asbab kehancuran
adalah jika Allah telah cabut dari kita keinginan dan kekuatan untuk berdo’a
kepada Allah. Ini karena do’a adalah senjatanya orang beriman, jika senjata
kita telah Allah ambil bagaimana kita bisa selamat dari dunia ini. Jika kita
suka memberi kepada manusia maka manusia akan cinta kepada kita. Jika kita suka
meminta kepada manusia maka mereka akan membeci kita. Meminta kepada manusia
atau kepada mahluk adalah asbab kehinaan. Meminta kepada manusia akan
mendatangkan kekecewaan, sedangkan meminta kepada Allah akan mendatangkan
harapan dan dijamin tidak akan mengecewakan. Allah tidak pernah mengecewakan
mahluknya, tetapi kitalah yang selalu mengecewakan Allah.
Tetapi kata ulama bahwa tidak
mungkin manusia ini mempunyai sifat akhlaq yang sebetulnya, sebelum dia bisa
menarik apa yang ada dari khazanah Allah Ta’ala. Jadi kalau ibadahanya belum
betul dengan kata lain tidak bisa menarik daripada apa yang ada dalam khazanah
Allah Ta’ala, maka tidak mungkin dia bisa memiliki daripada akhlaq yang hakiki.
Kalau kita lihat sekarang, ada juga akhlaq, tetapi bukan seperti akhlaq para
nabi dan sahabat. Dalam usaha bisnis ada juga akhlaq, seperti ketika kita naik
kapal terbang, pramugari melayani kita, memberi makan, memberi minum, nanya
kepada kita,” Mau perlu apa lagi ?” inilah kebailkan dan akhlaq yang
ditunjukkan pramugari. Tetapi kata Maulana Umar Rah.A, begitu penumpang turun
dari pesawat, kita yang tadi dilayani, begitu melihat kita tidak akan
dipedulikan oleh si prmugari. Hanya ketika bertugas saja, walaupun tidak
diminta dia akan melayani kita. Begitu juga perusahaan jasa atau perdagangan,
ketika sedang kedatangan tamunya untuk membeli barang perusahaan tersebut. Maka
semua pegawainya akan melayani dan berusaha menyenangkan tamu tersebut. Di
Iqrom oleh perusahaan tersebut, diberi hadiah, diundang makan, disediakan
kendaraan, tetapi ini hanya karena ada maksud yaitu ingin mengambil keuntungan
daripada tamu perusahaan tersebut. Ini bukanlah akhlaq, tetapi yang namanya
akhlaq itu adalah berusaha berbuat kebaikan kepada orang lain hanya demi
mendapatkan RidhoNya Allah Ta’ala. Kata para ulama Iqrom yang sebenarnya adalah
kita berbuat baik kepada orang lain bukan untuk dengan tujuan untuk
menyenangkan orang itu, tetapi tujuannya tetap untuk menyenangkan Allah Ta’ala.
Niat hanya untuk mencari Ridho Allah, mencari daripada kesenangan Allah Ta’ala,
inilah orang yang mempunyai sifat Khilafah, sifat Akhlaq.
Namun, untuk bisa meningkatkan
derajat disisi Allah menjadi lebih tinggi lagi diperlukan ketahanan dan
kesabaran, karena akan datang banyak cobaan-cobaan daripada Allah Ta’ala.
Maksud daripada ujian ini adalah bukannya untuk menyusahkan kita tetapi untuk
menaikkan derajat kita. Sebagaimana dikantor kalau ingin menaikkan jabatan
seseorang diberikan ujian tujuannya bukan untuk menyusahkan tetapi untuk
menaikkan derajat atau pangkat dia. Diberikan ujian kepadanya, kalau dia lulus
baru dinaikkan derajatnya atau statusnya. Jadi tujuan daripada ujian tersebut
bukan maksudnya untuk menyusahkan. Begitu juga jika datang kepada kita
kesusahan-kesusahan dan kesulitan-kesulitan, maksud Allah bukan untuk
menyusahkan kita tetapi Allah ingin mengangkat atau menaikkan derajat atau
maqom kita. Kepada orang-orang yang menjalankan usaha agama ini akan datang berbagai
macam ujian dan berbagai macam kesusahan kepada kita. Tetapi maksud utamanya
adalah bukan untuk menyusahkan kita, melainkan untuk menaikkan derajat kita.
Dengan kesusahan dan kesulitan, Allah inginkan kita menjadi orang yang sabar
dan tahammul, bukan orang yang mudah putus asa.
Note
dari penulis :
Dengan
kesulitan dan kesusahan, seseorang dapat menjadi manusia yang lebih baik asal
dia punya kesabaran. Namun jika dia menyerah, berputus asa dari rahmat Allah,
ketika diberi ujian atau cobaan maka dia akan kehilangan segalanya. Ini
disebabkan ketika dia menyerah maka berhentilah apa yang diusahakannya, tidak
ada usaha, yang ada hanya kemunduran atau kehancuran. Seperti seorang ilmuwan
yang sedang berusaha menemukan alat atau mesin. Ketika dia gagal dan putus asa,
maka seluruh usaha yang dia curahkan selama ini akan sia-sia saja dan mesin itu
akan hancur jika tidak diusahakan. Namun jika dia sabar dan tahan uji, maka dia
akan berfikir terus untuk memperbaiki keadaan, memperbaiki kesalahannya, dan
terus berusaha atas penemuan mesinnya itu, hingga sukses. Inilah yang namanya
peningkatan kualitas, yaitu ketika seseorang belajar dari pengalaman untuk
menjadi yang lebih baik. Dengan kesusahan dan kesulitan, manusia ini akan
berfikir dan akan meningkatkan kemampuannya menjadi manusia yang lebih baik
agar dia tidak melakukan kesalahan yang sama. Tetapi jika manusia ini senang
melulu dia akan lalai, lengah, tidak waspada, dan tidak akan mampu untuk
berpikir karena tidak pernah susah. Jadi kesulitan dan kesusahan ini dengan
kesabaran dapat meningkatkan qualitas dan mutu daripada manusia itu sendiri.
Kesabaran menghadapi kesulitan dan kesusahan karena agama Allah inilah yang
dinamakan Pengalaman Iman. Inilah maksudnya yang dikatakan dalam suatu riwayat
bahwa Allah menyukai orang beriman yang kuat bukan yang lemah. Dia kuat dalam
arti sabar dan tahan uji, bukan orang beriman yang lemah dan mudah putus asa
dari rahmat Allah.
Sabar ini adalah salah satu
daripada sifat Allah, As Shabur. Jadi Allahpun menghendaki kita agar mempunyai
sifat sabar, sehingga datanglah kepada kita bermacam-macam ujian. Allah ingin
melihat kalau kita tetap istiqomah dalam taat kepada Allah. Jika orang itu
mampu istiqomah taat kepada Allah dalam keadaan apapun baru orang itu dapat
dikatakan sabar. Yang dikatakan sabar itu bukanlah orang yang tenang tidak
dalam keadaan tidak ada apa-apa, maksudnya tidak ada kesulitan dan ujian atas
nafsu. Seorang suami berkelakar, “Istri saya ini sabar sekali, kalau bulan
muda, tetapi kalau sudah bulan tua sudah tidak sabar lagi. “ Istri ini kalau
bulan muda masih ada gaji atau uang yang cukup untuk keperluan dan kebutuhan,
dia bisa tenang saja menunggu, tetapi ini bukanlah yang namanya sabar. Sabar
itu bila ada kesusahan tidak berubah taatnya kepada Allah, tidak berubah daripada
sifatnya, tetap mampu menjaga daripada sifat-sifat yang baik.
Note
dari penulis :
Ulama dari generasi Tabi’in, Hasan Basri Rah.A, berkata
bahwa tidak ada kemuliaan yang lebih besar yang Allah berikan kepada seseorang,
melebihi sifat sabar. Namun pertanyaannya bagaimana mendapatkan sifat sabar ini
? Sifat-sifat tinggi atau yang mulia ini akan datang melalui keadaan yang
bertentangan dengan nafsu atau dalam keadaan yang mujahaddah. Bagaimana kita
mengetahui diri kita Sabar sebelum kita bertemu dengan orang pemarah ?
Bagaimana kita bisa dapat sifat Tawakkal kepada Allah sebelum kita mendapatkan
keadaan dimana kita tidak bisa lari kepada siapapun selain kepada Allah ?
Begitu juga sifat-sifat mulia yang lain ini akan datang atau wujud dalam diri
kita melalui cobaan-cobaan dalam keadaan-keadaan yang bertentangan dengan nafsu
kita atau mujahaddah atas nafsu.
Jadi datangnya kesusahan-kesusahan kepada kita bukanlah
maksudnya untuk menyusahkan kita, tetapi untuk menaikkan derajat kita supaya
sifat kita menjadi sifat khalifah dan tetap menjaga ketaatan kepada Allah
Ta’ala. Kadang-kadang Allah datangkan keadaan kepada kita dimana ada orang
datang menyalahkan, menuduh, dan memarahi kita, padahal kita tidak berbuat
salah, bahkan telah berbuat kebaikan kepada orang yang marah tersebut. Inipun
jangan lantas kita salahkan orang itu, tetapi yang harus kita ingat adalah apa
maksud Allah dibalik keadaan yang telah Allah berikan ini kepada saya. Apa
maksud Allah merubah sikap orang itu berbuat buruk kepada kita ? inilah yang
justru harus kita fikirkan, karena kita harus cari tahu apa kehendak-kehendak
Allah atas diri kita saat itu. Kata ulama kalau ada orang berbuat salah kepada
kita, maksud Allah bukan untuk menyusahkan kita tetapi ingin datangkan kepada
kita sifat Pemaaf. Ini karena sifat pemaaf ini adalah datang daripada sifatNya
Allah. Ini sifat tidak akan datang kepada kita jika tidak ada orang berbuat
salah kepada kita. Kalau orang selalu berbuat baik kepada kita, tidak pernah
berbuat salah kepada kita, maka tidak akan datang atau tidak akan ada sifat
pemaaf pada kita. Sifat Pemaaf ini adalah salah satu sifat yang disukai Allah
Ta’ala. Demikianlah juga para Nabi, walaupun mereka-mereka ini adalah
orang-orang yang tidak berbuat salah, tetapi kaumnya berbuat berbagai macam
keburukan dan kedzoliman kepada para Nabi mereka. Namun para Nabi ini memiliki
sifat pemaaf, memaafkan daripada kesalahan kaumnya, bukan meminta dihancurkan.
Bahkan para Nabi ini memohon kepada Allah agar sikap-sikap mereka itu
dimaafkan, walaupun mereka telah dizolimi oleh kaumnya. Begitu juga kalau kita
jalankan usaha dakwah ini, usaha kenabian ini, orang-orang akan salah sangka.
Disangkanya oleh mereka bahwa usaha kenabian ini atau usaha dakwah ini, dan
orang-orang yang terlibat dalam kerja nabi ini akan membawa mereka kepada
kehinaan dan kehancuran. Macam-macam sangkaan yang akan kita hadapi, tetapi
kita harus sabar, bahkan kita harus maafkan kesalahan-kesalahan mereka terhadap
kita. Sebetulnya kata para ulama kita harus berterima kasih kepada orang yang
menyusahkan kita, kepada orang yang berbuat salah kepada kita, kepada orang
yang bermasalah dengan kita, sebab mereka itu akan menaikkan derajat kita.
Seorang
Arab bertanya kepada Ulama yang memberikan ceramah di mekkah, buat apa mereka
itu dijadikan orang-orang yang menentang kepada agama seperti Firaun, Qorun,
Hamman, Namrud, dan lain-lain. Kata dia lebih baik orang yang macam itu tidak
usah diciptakan oleh Allah, suapaya para Nabi ini lancar, dan usaha agama ini
lancar. Buat apa diciptakan orang macam mereka itu. Lalu ulama ini menjawab
dengan bijak, “Wahai saudara, adakah saudara mengetahui telur ayam ?” lalu
jawab si arab tersebut, “Ya, saya mengetahui telur ayam.” Lalu si ulama ini
bertanya lagi, “Kalau telur ayam itu dipecah terdiri daripada apa ?” si Ulama
melanjutkan bahwa telur ayam itu terdiri daripada kulit telur, putih telur, dan
kuning telur. Kalau telur ayam itu menetas yang menjadi anak ayam itu adalah
dari kuning telur dan putih telur. Kulit telor tidak akan menjadi anak ayam.
Kalau telor tadi dimakan, digoreng maksudnya, itupun yang dimakan oleh manusia
itu hanya kuning telur dan putih telur, tetapi kulit telor ini tidak dimakan.
Jadi Kulit telor ini tidak bisa jadi anak ayam dan tidak bisa pula untuk
dimakan. Kalau kita bertanya kepada Allah buat apa kulit telur itu diciptakan,
tidak bisa dimakan dan tidak pula bisa jadi anak ayam. Tentu jawabannya telor
tidak akan jadi anak ayam kalau tidak ada kulitnya. Dan telor tidak akan bisa
dimakan kalau keluar daripada pantat ayam tanpa kulitnya, tidak ada yang mau
memakannya. Ini karena isi telor tadi keluar tanpa kulit telur, sehingga
menjadi najis. Jadi putih telur dan kuning telur ini akan bermanfaat jika ada
kulit telur. Begitu pula orang-orang yang berbuat salah kepada kita, yang
menguji, atau para penentang agama, ini seperti kulit telur atas telor. Untuk
menetaskan orang menjadi penyabar, menjadi pemaaf, menjadi beriman, adalah
karena adanya orang-orang yang menentang kepada usaha agama ini. Jadi
sebetulnya yang menaikkan derajat Nabi Musa AS, sampai kepada derajat Nabi yang
Ulul Azmi ( 5 Nabi yang paling Mulia ), ini dikarenakan adanya tantangan
daripada Firaun. Naiknya derajat Rasullullah SAW sampai kepada derajat Ulul
Azmi dan derajat Sayyidul Anbiya karena penentangan daripada Abu Jahal, Abu
Lahab, dan lain-lain.
Orang yang tahu akan hakekat Sabar dalam Mujahaddah ini,
diceritakan dalam sebuah kitab, seorang syekh dipukuli sampai babak belur oleh
seorang muridnya, padahal dia tidak bersalah. Tetapi Si syekh itu malah
berdo’a, “Ya Allah ampuni muridku itu dan masukkan dia kedalam surgaMu.”
Orangpun heran mengapa si syekh ini masih mau mendo’akan kebaikan untuk orang
macam itu. Lalu si Syekh ini berkata bahwa dialah yang telah menaikkan
derajatku menjadi sabar, supaya menjadi pemaaf, makanya aku berterima kasih
kepada dia dengan mendo’akannya. Orang-orang yang faham akan hal ini, ketika
mendapatkan kesulitan dalam menjalankan usaha agama ini, merupakan suatu
anugrah, karunia, suatu nikmat yang besar dari Allah Ta’ala. Namun kita tidak
boleh meminta didatangkan kesusahan karena setiap orang pasti diuji oleh Allah
dengan kesusahan dan kesulitan. Nanti Allahlah yang menentukan waktu dan kadar
daripada cobaan tersebut.
Setelah sekian lama Nabi SAW membuat usaha yang terus
menerus atas diri sahabat agar mereka dapat meningkat lagi derajat disisi
Allah. Nabi SAW membuat kerja atas sahabat-sahabat, sehingga sahabat ini
derajatnya naik dari memiliki sifat khilafah menjadi memiliki sifat seperti
para Nabi dan Rasul AS . Para Sahabat ini bukan Nabi dan Rasul, tetapi hanya
manusia biasa seperti kita, namun sifat-sifat yang mereka miliki menyerupai
sifat-sifat para Nabi dan Rasul. Para Sahabat mampu mewarisi sifat-sifat para
Nabi dan Rasul karena mereka diperjuangkan oleh Nabi SAW agar bisa sampai
kepada sifat-sifat kenabian. Apa itu sifat para Nabi ? sifat para Nabi itu
adalah Rasa Tanggung Jawab terhadap Agama Allah dan Manusia seluruh alam. Sifat
inilah yang dinamakan Usaha Agama, yaitu bagaimana agama dapat tersebar
keseluruh alam, dan bagaimana manusia supaya bisa mengamalkan agama. Sahabat
mempunyai keyakinan para Nabi yaitu meyakini bahwa manusia ini akan bahagia
dunia dan akherat hanya dengan jalan taat kepada Allah Ta’ala. Maka untuk dapat
mengajak manusia kepada keselamatan, kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di
akherat, diajaklah mereka oleh sahabat untuk taat kepada Allah Ta’ala.
Allah
berfirman di dalam Al Qur’an Mahfum :
“Wahai
manusia ucapkanlah La Illaha Illallah agar kamu mendapatkan kejayaan
(kebahagiaan dan kesuksesan).”
Ayat ini meminta manusia untuk taat kepada Allah agar
hidupnya bisa sukses, bisa jaya, dan bisa bahagia dunia dan akherat.
Sahabat-sahabat RA mempunyai keyakinan seperti yakinnya Nabi SAW, bahwa manusia
ini akan bahagia apabila mereka mau taat kepada Allah Ta’ala. Sehingga para
sahabat ini siang dan malam membuat usaha agama atas manusia, mengajak mereka,
agar mereka mau taat kepada Allah Ta’ala. Para sahabat ini mewarisi sifat
kasihannya Nabi SAW, sehingga mereka sedih kalau melihat orang-orang yang tidak
mau taat kepada Allah Ta’ala. Maka mereka bekerja atas manusia disiang hari,
menyeru mereka untuk taat kepada Allah, dan dimalam hari mereka berdo’a kepada
Allah untuk memberikan hidayah kepada setiap manusia. Begitulah sifat-sifat
sahabat walaupun dia manusia biasa tetapi karena diperjuangkan oleh Nabi SAW,
sahabat mampu memiliki sifat-sifat mulia para Nabi. Begitu juga kita juga mampu
mendapatkan apa yang didapatkan oleh para sahabat jika kita mau buat usaha.
Supaya kita ini memiliki sifat nubuwah, sifat kenabian, kita harus ikuti jejak
pengorbanan sahabat dan cara yang diajarkan oleh Nabi SAW. Dengan mengikuti
jejak sahabat dan ikuti cara Nabi SAW, kitapun mampu :
1.
Memiliki Sifat Malaikat : Taat kepada Allah Ta’ala
2.
Memiliki Sifat Khilafah : Mewakili Sifat Kholiq yaitu dengan Akhlaq
3.
Memiliki Sifat Kenabian : Tanggung Jawab atas Ummat dan Agama
Kita
bukan Malaikat, tetapi kita mampu mewarisi daripada sifat Malaikat. Kitapun
bukan Rabb, bukan Kholiq, tetapi mampu mewarisi daripada sifat-sifat Kholiq
yaitu dengan Akhlaq. Dan kitapun bukan dari kalangan Anbiya AS, tetapi kitapun
mampu mewarisi sifat-sifat kenabian. Kita dituntut untuk memiliki sifat-sifat
ini dalam kehidupan kita. Atas inilah Allah juluki ummat ini sebagai Ummat
terbaik ( Choiru Ummat ).
Allah
berfirman mahfum :
“Kamu
adalah ummat terbaik yang dikeluarkan di tengah-tengah manusia untuk mengajak
manusia berbuat baik dan mencegah mereka dari berbuat Mungkar”
Allah ciptakan kita, hidupkan kita, kirimkan kita
ditengah-tengah manusia dengan 3 maksud yaitu agar kita memiliki daripada
sifat-sifat : Malaikat, Khalifah, dan Nubuwah. Ketiga maksud ini didukung oleh
hadits-hadits Rasullullah SAW. Suatu ketika Rasullullah SAW ditanya oleh
seorang sahabat, “Ya Rasullullah, amal apa yang paling afdhal (paling baik) ?”
Jawab Nabi SAW, “Amal yang paling baik adalah sholat tepat pada waktunya.” Ini
adalah ibadah. Lalu sahabat bertanya lagi, “Lalu amal apa lagi ?” Nabi SAW menjawab,
“Berbuat baik pada orang tua.” Ini adalah Akhlaq. Sahabat menjawab lagi, “Lalu
amal apalagi ?” Nabi SAW menjawab, “Jihad Fissabillillah,” yaitu berjuang untuk
agama Allah, ini adalah Dakwah Khuruj Fissabillillah. Jadi diciptakan kita ini
untuk 3 maksud yaitu :
1.
Ibadah : Sholat tepat pada waktunya
2.
Akhlaq : Berbakti kepada kedua orang tua
3.
Jihad Fisabillillah : Dakhwah Khuruj Fissabillillah
Demikian
juga ketika Rasullullah SAW menjelang akhir wafatnya, Nabi SAW berucap yang
hampir tidak terdengar karena kecilnya suara beliau SAW. Apa wasiat terakhir
Nabi SAW ini yang hampir tidak terdengar :
1.
Asholah (3x) artinya Jaga sholat 3x diulangi : Ibadah
2.
Berbuat baiklah kepada Hamba Sahaya : Akhlaq
3.
Segera berangkatkan rombongan Usamah RA : Jihad Fissabillillah
Jadi karena 3 maksud inilah kita dihantarkan yaitu :
Ibadah, Akhlaq, dan untuk memperjuangkan agama Allah Ta’ala. Jadi kita musti
memahami sebagai umat yang terbaik, kita harus mempunyai bisa menjalani 3
wasiat Nabi SAW ini. Kalau ketiga hal ini ada dalam diri kita, maka segala
urusan, kepentingan, keperluan, kesulitan, dan kebutuhan kita ini akan Allah
mudahkan bagi kita mendapatkannya. Segala keperluan, kebutuhan, hajat, dan
lain-lain akan Allah penuhi dengan mudah. Do’a kita akan Allah kabulkan. Dan
kalau ada musuh yang akan mencelakakan kita, maka Allah akan lindungi kita,
Allah akan bantu, dan Allah akan tolong kita. Ini semua akan datang kepada
kita, bahkan kita akan dimuliakan oleh Allah, dan dinaikkan derajatnya. Ini
semua sudah terbukti dan terjadi kepada sahabat-sahabat RA.. Para sahabat RA
telah mencapai kemuliaan dan ketinggian derajat dalam kehidupan manusia.
Apabila para sahabat RA ini berhadapan dengan musuh-musuh Islam, selalu
mendapatkan kemenangan karena telah ditolong oleh Allah SWT.
Di dalam sebuah bayan di Markas Dakwah Malaysia, si Mubayin
ini bilang :
“Kalau
umat islam ini berhadapan dengan syetan atau dengan kekufuran daripada
orang-orang kafir, hanya dengan kekuatan seperti mereka ( tawajjuh pada
teknologi atau asbab-asbab seperti yang dimiliki orang kafir ), umat islam
tidak akan pernah menang dan selalu kalah. Contoh : Nabi Adam itu Islam dan
Siti Hawa juga Islam, tetapi ketika berhadapan dengan iblis atau syetan, mereka
kalah, sehingga di keluarkan dari syurga dikirim ke dunia ini. Nabi Ibrahim AS,
berlawanan dengan Namrud, dia dilemparkan kedalam api, juga tidak mampu berbuat
apa-apa. Selalu hanya mengandalkan dengan kekuatan-kekuatan seperti mereka akan
datang kekalahan. Menangnya umat islam, orang-orang beriman ini, hanya dengan
pertolongan daripada Allah Ta’ala.”
Usaha
yang benar atas kita untuk dapat mencapai kemuliaan dan kemenangan adalah usaha
bagaimana supaya datangnya pertolongan Allah kepada kita. Jangan sampai kita
mempunyai fikir seperti orang kafir kalau mereka punya ini dan kita juga
memiliki, maka kita akan jaya. Ini pemikiran dan keyakinan yang keliru. Kalau
caranya seperti itu, tidak pernah ada sejarahnya umat islam mencapai kemenangan
dengan cara dan asbab-asbab yang dimiliki orang kafir, tetapi umat islam ini
menang hanya dengan pertolongan Allah. Jadi usaha kita ini adalah usaha
bagaiama pertolongan Allah datang kepada kita. Kalau kita sudah memiliki ke 3
sifat tadi barulah pertolongan Allah akan datang kepada kita. Bahkan kalau kita
memiliki kesempurnaan ketiga sifat tadi maka Allah akan memberikan kekuatan
kepada kita yang tidak Allah berikan kepada mahluk lainnya yaitu kekuatan “Kun
Faya Kun”. Allah akan datangkan kekuatan seperti ini kepada kita.
Hinanya umat islam di hari ini karena mereka telah tinggalkan
ke 3 maksud hidup tadi yaitu untuk : Ibadah, Akhlaq, Jihad Fissabillillah.
Mereka tidak mempedulikan masalah Ibadah, masalah akhlaq, dan masalah
memperjuangkan agama. Mereka ikut berjuang seperti orang kafir. Dan kesibukan
mereka terlihat jelas sama dengan seperti kesibukan orang kafir. Orang kafir
sibuk mengurusi teknologi, orang islampun sibuk mengurusi teknologi. Orang
kafir sibuk dengan perdagangan, kitapun sibuk dengan perdagangan. Orang kafir
sibuk dengan pembangunan, kitapun sibuk dengan pembangunan. Kesibukan umat
islam hari ini sama dengan kesibukan orang kafir. Sementara Ibadah tidak diurus
oleh umat islam, akhlaq juga tidak diurus, agama Allah juga tidak ada yang
mempedulikan. Inilah yang menyebabkan umat islam menjadi hina dimana-mana. Selama
umat islam tidak mengambil kerja atas 3 perkara ini, maka tidak akan ada
kemuliaan bagi umat islam. Hanya dengan jalan kembali pada kerja ini maka
kejayaan dan kemuliaan umat islam akan wujud seperti di jaman Nabi SAW dan para
Sahabat. Inilah seharusnya yang menjadi fikir kita :
1.
Bagaimana Manusia mau memperbaiki ibadah kepada Allah ?
2.
Bagaimana Manusia mau memperbaiki akhlaq ?
3.
Bagaimana Manusia mau memperjuangkan agama Allah ?
Kalau
ini bisa kita kembalikan kepada ummat, baru kehidupan kita akan dibetulkan oleh
Allah SWT. Tetapi orang-orang yang tidak mendapat hidayah, tidak melihat
kepentingan daripada amal ini, seperti seolah-olah tidak ada manfaatnya. Ini
karena mereka itu hatinya gelap, jauh daripada Nur Hidayah Allah SWT.
Seolah-olah dengan meninggalkan ibadah ini tidak akan mendatangkan musibah.
Padahal musibah-musibah yang terjadi dan yang berkepanjangan ini disebabkan
karena manusia telah meninggalkan ibadah kepada Allah SWT. Bagaimana umat islam
akan dimuliakan, sementara sebagian besar dari umat islam ini telah
meninggalkan sholat, tidak taat kepada Allah Ta’ala. Tidak bisa kita
menyelesaikan masalah hanya dengan bantuan daripada materi saja. Seperti negara
yang dilanda masalah dan berbagai macam krisis, coba-coba menyelesaikan masalah
yang ada dengan mengutang kesana kemari. Problem yang diselesaikan dengan cara
ini tidak akan habis. Mungkin bukan saja masalah tidak akan selesai, tetapi
akan menambah masalah. Walaupun di nagara tersebut di hujani dengan emas, umat
islam ini tidak akan selesai masalah yang mereka hadapi. Ini selama umat islam
ini tidak memperbaiki daripada amalnya. Hanya dengan usaha kenabian umat islam
akan terangkat derajatnya, akan ditolong dan diselamatkan oleh Allah Ta’ala.
Jadi usaha nubuwah ini bukanlah usaha yang kecil. Inilah kita sebabnya diminta
supaya mau berkorban untuk usaha nubuwah ini. Kalau kita mau korban terjun dan
terlibat dalam usaha ini, maka yang pertama-tama Allah akan perbaiki adalah
diri kita sendiri. Sedangkan janji Allah ini adalah pasti.
Kata
ulama dalam Al Qur’an Allah berfirman mahfum :
“Barangsiapa
yang berjuang di jalan kami pasti kami tunjukkan jalan kami…”
Kata
ulama “Pasti” disini dalam sastra arab, maknanya yang terkandung dalam ayat
tersebut mempunyai kekuatan janji Allah sebanyak 12 kali yaitu pasti ( 12 kali
) akan diberikan Allah hidayah. Tetapi kalau hanya dengan ibadah saja ini tidak
pasti. Dengan sholat, dengan puasa, dan amal yang lain, ada janji Allah tetapi
tidak pasti.
Misalnya
ayat puasa :
“Wahai
orang-orang beriman telah difardhukan kepada kamu berpuasa sebagaimana
diturunkan kepada umat-umat terdahulu, agar kamu mudah-mudahan menjadi orang
yang bertakwa.”
Disini diakhiri dengan kata mudah-mudahan : “La allakum”.
Semua ayat tentang sholat, puasa, melayani orang haji, atau yang naik haji, ini
semua kepastiannya adalah mudah-mudahan tingkatannya atau “La allakum”. Tetapi
kalau kita terjun dalam usaha kenabian ini maka janji Allah kepada kita dalam
usaha ini tingkat kepastiannya adalah pasti. Oleh karena itu perlu kita terjun
dalam usaha ini, nanti Allah Ta’ala akan perbaiki segala keadaan. Nasib orang
islam hanya akan berubah melalui asbab usaha kenabian ini. Maka kita harus
kerjakan usaha ini dengan keyakinan, sebagaimana Maulana Saad, syuro dunia,
berkata bahwa kerjakan usaha ini dengan bashiroh. Maksud dari kata Bashiroh ini
adalah yaitu dengan penuh keyakinan. Keyakinan bahwa segala masalah dapat
diselesaikan melalui usaha ini. Kita dalam hidup ini akan selalu menghadapi dan
mempunyai masalah, bukan hanya yang gaji kecil itu bermasalah, tetapi yang gaji
besarpun bermasalah. Kargozari di malaysia bahwa gaji orang Indonesia ini
kecil-kecil menyebabkan masalah, ternyata di Malaysiapun yang gajinya
besar-besar juga tidak luput dari masalah. Untuk bisa menyelesaikan masalah ini
hanya dengan kerja dakwah, bukan dengan cara naik gaji atau kebendaan lainnya.
Bahkan kadang-kadang gaji naik tetapi ternyata lebih tinggi lagi masalahnya.
Jadi peningkatan kebendaan atau materi bukanlah jalan keluar, tetapi melalui
usaha nubuwah ini, Allah janjikan pertolongan untuk kita menghadapi segala
masalah. Para Masyaikh berkata bahwa melalui kerja ini Allah akan selesaikan
daripada masalah-masalah yang ada. Lalu ada yang berkata, “ Itukan kata
masyeikh, tetapi dalil qur’annya dari mana ?”
Dalilnya
adalah dalam Al Qur’an Allah berfirman mahfum :
“Barangsiapa
menolong agama Allah, maka Allah akan tolong dia….”
Kalau kita tidak ditolong oleh Allah, maka kita ini tidak
akan bisa menyelesaikan masalah-masalah yang ada walaupun itu hanya masalah
kecil tanpa bantuan dari Allah Ta’ala. Hanya dengan pertolongan Allah saja kita
dapat menyelesaikan masalah-masalah yang ada, mendapatkan kemenangan,
kejayaaan, dan kesuksesan dunia dan akherat. Jadi usaha kita ini yang harus
kita fikirkan adalah bagaimana pertolongan Allah dapat datang kepada kita.
Caranya adalah dengan menolong agama Allah. Maksudnya menolong disini bukannya
Allah butuh pertolongan, tetapi kita yang menolong agama Allah.
Note
dari penulis :
Maksud dari ayat tersebut menurut ulama bukannya Allah
mencari atau membutuhkan pertolongan kita. Ini namanya kesalah fahaman. Allah
ini Maha Kuasa dan kekuasaannya tanpa batas. Jika Allah sudah menjaga atau
melindungi seseorang, siapa yang mampu mencelakakannya ? begitu pula jika Allah
sudah berkehendak mencelakakan seseorang, siapa yang mampu untuk melindungi ?
Apa yang Allah mau tinggal berkehendak saja maka terjadilah apa yang Allah
kehendaki. Seluruh mahluk tidak akan dapat menolak atau menghalangi daripada
apa yang Allah kehendaki walaupun mereka semua bersatu untuk melawan Allah.
Seluruh mahluk ini bergantung pada Allah karena segala sesuatu ini bergerak
karena ada iradah, keinginan, daripada Allah Ta’ala. Bagaimana kita mampu
menolong Allah sedangkan kita tidak mampu menolong diri sendiri walaupun itu
hanya untuk mengedipkan mata saja, inipun harus dengan pertolonngan dan izin
dari Allah Ta’ala. Manusia tidak akan bisa mengangkat atau mengedipkan matanya
tanpa pertolongan dari Allah. Jadi maksud ayat ini adalah Allah menawarkan kita
untuk menolong agamanya, ini untuk memuliakan kita.
Hari
ini kita tidak sadar, bahwa umat islam dari segi qualitas dan quantitas
kebendaan jauh lebih baik daripada yang ada di kehidupan para sahabat. Dari
segi makanan, pakaian, rumah, transportasi, semuanya umat islam kini jauh lebih
baik dibandingkan dengan apa yang dimiliki oleh sahabat RA. Tetapi kenapa
sahabat dimuliakan dan sementara kita dihinakan ? Pertolongan Allah turun
bercurah-curah dijaman sahabat, sementara kita jauh dari pertolongan Allah. Ini
karena yang rusak dari kehidupan kita adalah kondisi agama kita saat ini.
Padahal agamanya sama, tetapi pengamalannya yang berbeda antara kita dan
sahabat. Para sahabat dari kebendaaan : pakaian, makanan, rumah, dan transportasi
tidak begitu bagus, bahkan terbelakang, tetapi agama sempurna dijalankan dalam
kehidupan mereka. Inilah yang menyebabkan mereka mulia.
Note
dari penulis :
Agama
wujud 100% di rumah-rumah sahabat dan dalam kehidupan mereka sehari-hari
sehingga Allah ridho pada mereka. Para sahabat diberi gelar Radhiollahu Anhum,
yaitu orang-orang yang Allah ridhoi. Jalan inilah yang seharusnya menjadi
panduan kita untuk hidup sukses di dunia dan akherat. Ini harus jadi target
bagi kita sebelum kita mati bagaimana agama sempurna kita amalkan. Umar RA
berkata kepada sahabat menjelang beliau wafat : “Aku, Abu Bakar, dan
Rasullullah SAW ini ibarat seorang musafir. Musafir pertama dan yang kedua
telah sampai pada tujuannya. Aku khawatir jika aku tidak mengikuti jalan mereka,
maka aku tidak akan sampai di tempat yang sama dengan mereka.” Jadi jika kita
ingin sampai di tempat dan tujuan yang sama dengan para sahabat maka tidak ada
jalan lain selain mengikuti jalan yang mereka telah tempuh. Apa itu jalan Nabi
SAW dan Sahabat RA yaitu jalan pengorbanan untuk agama mengajak manusia untuk
taat kepada Allah SWT. Allah Ta’ala perintahkan mahfum di dalam Al Qur’an
kepada Nabi SAW untuk menjelaskan jalan hidupnya yaitu dalam ayat 12 : 108 yang
artinya : Katakanlah (Muhammad) : “Ini adalah jalanku yaitu mengajak manusia
(untuk taat) kepada Allah dengan bashiroh, aku dan orang-orang yang
mengikutiku…”
Hari
ini umat sibuknya memperbaiki yang lain tetapi agama rusak dibiarkan. Parahnya
kita tidak sadar bahwa agama sudah rusak ditinggalkan. Hari ini kalau rumah
kita rusak, kita langsung sadar, buat inisiatif memperbaikinya. Begitu juga
kalau mobil kita rusak, pakaian kita rusak, status kita rusak, dan kebendaan
lainnya yang rusak kita sadar, tetapi agama rusak kita tidak sadar-sadar.
Perasaan sudah cukup baik agama ini bagi kita. Inilah yang diperjuangkan umat
saat ini yaitu bagaimana kebendaan, perdagangan, pertanian, teknologi,
kesehatan, dan semua unsur keduniaan ini meningkat. Agama bagi mereka dianggap
tidak apa-apa, baik-baik saja, cukup-cukup saja, tidak ada masalah. Padahal
sudah jelas nampak kerusakannya, umat islam sebagian besar tidak sholat. Para
sahabat RA, mereka memperjuangkan agama, sehingga agama secara sempurna wujud
dalam diri mereka dan kehidupan mereka. Agama yang sempurna ini yang wujud
dalam kehidupan sahabat terdiri dari 5 cabang yaitu Imaniat, Ibadat, Muamalat,
Muasyarot, Akhlaq.
Note
dari penulis :
1.
Imaniat : Keyakinan yang sempurna dan Tauhid yang bersih
2.
Ibadat : Sholat, Puasa, Zakat, Haji sempurna dijalankan
3. Muamalat
: Adab atau Fiqih dagang, politik, dan pemerintahan
4.
Muasyarot : Adab hubungan antar manusia co : guru-murid, keluarga, tetangga,
atasan-karyawan
5.
Akhlaq : Perwakilan sifat Jamil Allah yang mulia co : Penyayang, Pengasih,
Pemaaf, Penyabar
Namun
hari ini umat islam kebanyakan, hanya memahami agama dari ibadat saja. Begitu
orang mau sadar dan mau tobat, belajar dulu, diajarin sholat. Disangkanya agama
itu perkara sholat dan ibadat saja. Padahal kesempurnaan agama itu bukan hanya
ibadat saja, ini hanya salah satu dari cabang agama atau hanya 1/5 (seperlima)
daripada kesempurnaan agama. Agama itu menyangkut dengan Iman, Ibadat,
Muamalat, Muasyarot, dan Akhlaq, baru agama itu sempurna. Tetapi hari ini
seolah-olah agama itu hanya ibadat atau pengetahuan tentang ibadah saja,
kecuali ulama. Dari sekian cabang agama yang paling penting adalah sholat.
Kedudukan sholat dalam islam seperti kedudukan kepala pada badan. Ini karena
sangking pentingnya dan tingginya kedudukan sholat dalam agama.
Note
dari penulis :
Manusia
tanpa tangan masih bisa dibilang manusia hanya saja ada cacatnya. Manusia tanpa
mata, tanpa telinga, tanpa kaki, inipun begitu pula, masih bisa dibilang
manusia tapi ada cacatnya. Namun kalau manusia tanpa kepala mau dibilang apa ?
orang mati namanya. Manusia mati ini tidak ada gunanya dan tidak ada nilainya,
begitulah orang yang meninggalkan sholat.
Dalam
hadits dikatakan mahfum :
“Sholat
itu adalah tiang agama. Barangsiapa yang menegakkan sholat berarti dia sudah
menegakkan agamanya. Barangsiapa yang meninggalkan sholatnya berarti dia sudah
merubuhkan agamanya.”
Walaupun
sebagian besar umat islam tahu tentang kepentingan sholat sebagai ibadat yang
paling penting, tetapi sebagian besar dari umat islam juga tidak sholat. Sudah
tidak memahami agama walaupun hanya 1/5nya, tapi yang 1/5 nya juga acak-acakan
pengamalannya, apalagi dengan yang lain dari Muamalatnya, Muasyarotnya,
Akhlaqnya. Dulu dijaman para sahabat, orang islam dimata orang kafir itu adalah
mulia dan tinggi. Ini karena kelima cabang agama ini ada dalam kehidupan
sahabat. Hari ini umat islam dimata orang kafir menjadi hina, mengapa ? padahal
:
1.
Imaniat : Tidak dilihat orang kafir karena ini didalam hati manusia, tidak
nampak.
2.
Ibadat :
a.
Sholat tidak dilihat karena merekapun sembahyang
b.
Puasa juga tidak nampak karena bisa menahan lapar dan haus
c.
Zakat juga tidak dilihat karena hanya dibagikan kepada orang-orang islam
d.
Haji hanya ditanah haram khusus orang islam dan orang kafir tidak lihat.
Ini
karena yang nampak mereka lihat adalah cabang Muamalatnya, Muasyarotnya, dan
Akhlaqnya. Sedangkan hari ini ketiga cabang ini sudah hancur-hancuran dalam
kehidupan umat islam, jauh dari yang telah dicontohkan olah Nabi SAW dan yang
diamalkan oleh para sahabat RA. Muamalat, Muasyarot, dan Akhlaq umat islam
sudah rusak, bahkan mereka bisa lebih jahat dari pada orang kafir. Ini karena
tidak ada yang mengusahakan atas diri mereka, tidak ada dakwah. Ada kargozari,
laporan kerja, rombongan jemaah ke belanda. Ketika itu dalam setiap program
selalu ada kunjungan ke setiap penjara disana. Walaupun umat islam di penjara
ini minoritas, tetapi di setiap penjara di belanda ini isinya 75% adalah orang
islam. Ini karena telah buruknya muamalat, muasyarot, akhlaq dari pada orang
islam. Di Bali yang mayoritas hindu dan minoritasnya umat islam, tetapi kalau
kita datang ke penjara di bali sebagian besar penghuninya adalah orang islam.
Itulah fakta keadaan umat islam hari ini asbab tidak ada yang mengusahakan atas
diri mereka. Kita hari sibuk saja memikirkan keduniaan kita dan kebendaan kita
daripada memikirkan keadaan umat islam. Sehingga umat islam saat ini telah
mengalami degradasi kehidupan dibanding jaman sahabat RA menjadi hina dan
rendah seperti hewan, bahkan ada yang lebih jahat daripada hewan. Atas perkara
ini Allah himbau kita supaya mau korban ambil bagian dalam usaha kenabian ini.
Kalau
kita mau mengambil usaha ini, maka pertama-tama yang Allah akan perbaiki adalah
diri kita. Untuk kepentingan-kepentingan yang lain janganlah kita khawatir,
nanti Allah akan berikan kemudahan-kemudahan kepada kita jika kita mau terjun
dalam udaha nubuwah ini. Semua kebutuhan yang kita khawatiri dari makan-minum,
pakaian, transportas, rumah, tidak akan menjadi persoalan bagi kita, karena ini
adalah masalah kecil disisi Allah. Masalah pemberian rizki dari makan, minum,
udara, sinar matahari, dan yang lain ini adalah hak Allah kepada kita. Justru
yang harus kita tunaikan adalah hak kita kepada Allah : Ibadat, Akhlaq, dan
memperjuangkan agama. Namun keadaannya hari ini sudah terbalik, hak Allah tidak
kita tunaikan, tetapi berharap Hak kita ditunaikan Allah. Bukannya kita
memikirkan atau mengurusi hak kita kepada Allah, tetapi sibuk mengurusi dan
memikirkan yang sudah menjadi haknya dan kerjanya Allah Ta’ala. Yang dipikirkan
hanya bagaimana rizki datang kepada saya ? inilah yang namanya terbalik.
Seharusnya kita tunaikan hak kita kepada Allah, yaitu untuk 3 maksud penciptaan
manusia : Ibadah, Akhlaq, Jihad. Jika ada ketiga ini dalam diri kita maka semua
urusan kita akan Allah mudahkan. Sebagaimana telah banyak dikisahkan Allah
dalam Al Qur’an untuk sebagai contoh kepada kita kisah-kisah tentang ummat
terdahulu. Supaya kita belajar daripada kisah-kisah tersebut, bahwa
masalah-masalah yang dihadapi manusia ini kecil bagi Allah.
Seperti
kisah Nabi Musa AS dengan Bani Israil sewaktu mereka tersesat di lembah yang
kering kerontang, tidak ada tempat atau bangunan untuk bernaung, tidak ada
makanan untuk dimakan, tidak ada air untuk diminum. Mereka 40 tahun tersesat di
lembah itu, tidak ada jalan keluar. Allah beri pertolongan kepada Nabi Musa dan
Bani Isaril karena perjalanan mereka dalam rangka menolong agama Allah.
Bagaimana Allah menolong mereka ? yaitu Allah perintahkan awan untuk menaungi
mereka dari sengatan sinar matahari. Selama 40 tahun awan Allah kirim untuk
menaungi Bani Israil, sehingga mereka terselamat dari sengatan Matahari.
Walaupun mereka tidak punya rumah, tidak punya tempat bernaung, tetapi karena
mereka sibuk memperjuangkan agama Allah, maka Allah selesaikan masalah mereka.
Lalu bagaimana dengan makanan, di Al Qur’an diceritakan bagaimana Allah
menyelesaikan masalah ini, yaitu Allah turunkan daripada langit makanan dari
surga, Manna dan Salwa. Bani Israil di supply Allah selama 40 tahun makanan
turun dari langit, tanpa kerja, tidak ada pabrik, tidak ada pertanian, tidak
ada apa-apa. Makanan di supply oleh Allah dari langit selama 40 tahun, bukan 1
atau 2 hari tetapi 40 tahun, untuk bani israil tanpa mereka harus mengerjakan
apa-apa, karena mereka sibuk memperjuangkan agama Allah Ta’ala. Lalu bagaimana
Allah menyelesaikan masalah krisis air, kekurangan air minum, yaitu dengan
memerintahkan Musa AS untuk memukulkan tongkatnya kepada batu yang kering.
Sehingga dari batu yang kering ini terpancarlah 12 mata air keluar dari batu tersebut
selama 40 tahun tidak berhenti mengeluarkan air. Selama 40 tahun Bani Israil
tidak pernah kekurangan air. Lalu datanglah krisis pakaian, kekurangan pakaian
dan tidak adanya bahan untuk membuat kain. Ini karena pakaian hanya layak pakai
untuk beberapa tahun saja setelah itu rusak. Bagaimana Allah selesaikan masalah
ini yaitu Allah buat baju yang mereka kenakan awet, tidak rusak-rusak selama 40
tahun. Lalu bagaimana dengan bayi-bayi yang baru lahir, disini Allah buat semua
bayi yang lahir dari perut seorang ibu Bani Israil sudah terlahir dengan
mengenakan pakaian ketika keluar dari perut ibunya. Lalu bagaimana ketika bayi
itu beranjak besar, maka dengan kuasa Allah seiring dengan pertumbuhan badan
bayi maka bajupun membesar mengikuti pertumbuhan bayi tadi. Semua kebutuhan
pokok mereka selama 40 tahun terpenuhi sehingga mereka hidup dalam keteduhan,
makanan yang cukup, air yang tidak pernah kering, dan baju yang awet. Kata
ulama ini semua sengaja Allah ceritakan kepada kita untuk diambil sebagai pelajaran,
agar kita jangan takut dengan masalah-masalah kecil seperti ini. Allah akan
selesaikan masalahnya, tidak ada asbabpun Allah mampu selesaikan masalah
manusia. Allah mampu menyelesaikan masalah manusia tanpa asbab sebagaimana
masalah Bani Israil dapat Allah selesaikan tanpa asbab. Di lembah kering tidak
ada apa-apapun Allah mampu selesaikan masalah Bani Israil, tanpa asbab lagi,
apalagi hanya masalah-masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini.
Note
Penulis :
Tidak
ada masalah yang besar disisi Allah, semua masalah kecil bagi Allah, tidak ada
yang tidak mungkin bagi Allah. Semua masalah yang tidak mungkin bagi manusia,
semuanya mungkin-mungkin aja bagi Allah. Semua masalah besar bagi manusia jika
tidak ada pertolongan Allah. Namun jika ada pertolongan Allah maka semua
masalah menjadi kecil jadinya. Semua masalah kecil tanpa bantuan dan
pertolongan Allah bisa menjadi masalah besar bagi manusia.
Dari
sebuah lembah yang kering kerontang Allah sanggup penuhi kebutuhan
hamba-hambanya dari sandang (pakaian), pangan (makan-minum), dan papan (tempat
bernaung) untuk mereka. Apalagi di negeri indonesia ini yang kononnya kaya raya
akan sumber daya alamnya. Namun karena kita tinggalkan daripada usaha agama
ini, maka di negeri yang subur makmurpun dan kaya akan sumber daya alamnya ini,
kita justru susah di negeri ini. Inilah yang kita lihat daripada kenyataan. Ini
karena keberkahan ditarik oleh Allah SWT, daripada negeri yang nampak makmur
dan kaya ini, asbab kita tinggalkan daripada usaha agama ini. Jika kita mau
kembali menghidupkan usaha agama ini, maka perkara-perkara lain akan diperbaiki
oleh Allah Ta’ala. Semua urusan dari ekonomi, pertanian, cuaca, musibah-musibah,
akan diperbaiki oleh Allah Ta’ala. Cukup dengan kerja ini maka Allah mampu
selesaikan segala masalah kita. Namun bukan maksud masyeikh kita ini kita tidak
usah kerja, tidak usah tani, bukan ini maksudnya. Tetapi maksudnya agar kita
mau menyisihkan waktu untuk kerja agama ini. Masyeikh hanya menganjurkan
sekurang-kurangnya seumur hidup 4 bulan saja, setiap tahun 40 hari, setiap
bulan 3 hari, ini minimal atau minimum requirement. Namun untuk orang-orang
lama dalam kerja ini diminta untuk meluangkan waktunya minimal 4 bulan setiap
tahunnya. Bukan maksudnya untuk merusak daripada tatanan hidup kita, tetapi ini
untuk mendatangkan keberkahan. Tertib untuk kerja dunia bahwa kita harus kerja
minimal 8 jam tiap hari ini adalah sistem dan tertib yahudi dan nasrani. Orang
beriman tidak bisa ikut dalam sistem tersebut. Allah berkuasa cukup dengan
kerja 3 hari saja namun mencukupi untuk 1 bulan, bisa saja bagi Allah. Kita
bekerja 1 bulan dalam satu tahun, berpuasa, lalu Allah penuhi sisanya,
diberikan keberkahan, ini bisa saja dan mudah saja bagi Allah.
Jika
kita mempunyai 3 unsur tadi dalam diri kita yaitu : Ibadah, Akhlaq, dan
Berjuang untuk agama Allah, maka akan dimudahkan semuanya oleh Allah. Misalnya
hanya dengan kerja 3 hari tetapi mencukupi untuk 1 tahun. Tetapi kalau kita
ikuti daripada sistem atau tertib orang-orang yahudi dan nasrani ini, kalau
tidak kerja tidak mapan, maka keadaan seperti itulah yang akan Allah berikan.
Sehingga seseorang tanpa kerja dia akan kebingungan, hilang arah, rasa-rasa dunia
mau kiamat. Ini karena pola pikir kita sudah mentok atau terblokir oleh pola
pikir orang yahudi dan nasrani. Tidak kerja jadinya susah makan, maka
keadaannya jika tidak kerja akan Allah buat seperti itu pula. Ini karena
keyakinannya seperti itu yaitu tidak kerja sama dengan tidak makan. Tetapi
kalau yakin kita betul kepada Allah dalam setiap ibadah dan dengan taat kepada
Allah maka akan Allah mudahkan semuanya untuk kita.
Note
penulis :
Dalam
sebuah mahfum hadits dikatakan bahwa Allah ini tergantung pada prasangkaan
hambanya kepadaNya. Jadi apa yang kita sangka terhadap Allah, itu yang akan
terjadi. Jika kita sangkaannya kepada Allah seperti bila tidak ada kerja maka
tidak ada makan, maka keadaan seperti itulah yang akan terjadi. Jika kita yakin
tanpa kerja Allah mampu memberi kita makan, maka walaupun kita tidak ada kerja,
kita bisa tenang-tenang saja. Ini karena kita yakin bahwa Allah telah jamin
rezki kita. Namun walaupun begitu kerja ini adalah perintah Allah. Dan Allah
jadikan dunia ini sebagai darul asbab, tempat adanya sebab dan akibat. Tetapi
kalau kita yakinnya hanya kepada asbab saja, maka keyakinan yang seperti ini
tidak ada bedanya dengan keyakinan orang kafir yang yakinnya sempurna hanya
kepada asbab saja.
Bukan
dengan tidak kerja tidak apa-apa, bukan begitu caranya, tetapi kita belajar
sisihkan waktu kita untuk kerja agama ini pertama-tama dengan keluar 4 bulan,
lalu istiqomah 40 hari setiap tahunnya. Baru seiring waktu diusahakan untuk
meningkatkan pengorbanan menjadi 4 bulan setiap tahun, 10 hari setiap bulan,
dan 8 jam setiap hari. Jika kita mau ubah cara kita dengan cara atau tertib
ini, maka akan datang suatu masa Allah gunakan kita untuk agama Allah.
Sedangkan untuk kepentingan dunia kita tinggal angkat tangan (berdo’a) kepada
Allah, langsung Allah datangkan. Allah Maha Kuasa, semua pertolongan Allah di
dalam Al Qur’an diceritakan terjadi tidak hanya kepada para Nabi saja, tetapi
juga kepada selain para Nabi dan para sahabat. Semua kehebatan Allah yang Allah
nampakkan kepada Nabi dan para sahabat tidak hanya terjadi pada mereka, tetapi
juga terjadi pada orang-orang sholeh saat ini. Bagaimana para Masyeikh di
India, Pakistan, Banglades, mereka tidak ada pekerjaan, tidak punya pabrik,
tetapi mereka mampu untuk keluar 4 bulan setiap tahun dan mampu menjamu ribuan
tamu yang datang menemui mereka. Saudara-saudara kita yang keduniaannya jauh
lebih kurang dari kita tapi bisa terbang kemana-mana, dan keluar 4 bulan setiap
tahunnya. Kini banyak orang yang keduniaannya jauh lebih baik, kerjanya 12 bulan
full setiap tahun, jangankan pergi kemana-mana, untuk makan saja kadang-kadang
masih susah. Inilah kenyataan yang ada saat ini.
Usaha
ini betul-betul akan mendatangkan keberkahan jika kita sungguh-sungguh dalam
kerja ini, sedikit demi sedikit. Jangan kita dengarkan alasan-alasan orang yang
suka bilang bahwa kerja kantor atau nyari uang ini juga ibadah, ini betul,
tidak salah. Memang ada hadits mahfum, “mencari rizki yang halal itu wajib
hukumnya.” Bahkan dalam riwayat lain dikatakan bahwa mencari rizki itu adalah
ibadah juga. Tetapi adalah menurut daripada keutamaannya (derajat amal /
kepentingannya ). Misalnya : kita mencari rizki itu karena perintah Allah,
ibadah. Tetapi kalau ketika datang waktu sholat, maka yang lebih utama itu
adalah Sholatnya. Jika ketika waktu sholat tiba kita masih mencari rizki terus
ini akan menjadi dosa, bukan lagi menjadi ibadah. Jadi kita harus tahu
mendahulukan daripada keutamaan. Sahabat juga dagang, kerja, tetapi ketika
datang waktu untuk memperjuangkan agama Allah, maka mereka akan korbankan itu
semua. Ada yang bilang bahwa cari rizki itu bagus, tetapi ketika dia tidak mau
tinggalkan urusannya untuk keluar di jalan Allah, maka ini seperti orang yang
berwudhu tetapi meninggalkan sholat. Wudhu itu ibadah, perintah Allah, dan juga
syarat diterimanya daripada sembahyang kita. Kita kalau sholat tanpa wudhu maka
sholat kita tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala. Tetapi kalau ada orang habis
wudhu, lalu wudhu lagi, terus menerus wudhu berulang kali, waktu sholat datang
dia tidak sholat-sholat sibuk wudhu aja, maka walaupun wudhu ini ibadah akan
menjadi dosa juga. Begitu juga Nabi SAW dan para sahabat RA ada kerja juga, ada
dagang, dan ada tani pula, tetapi ketika waktu memperjuangkan agama tiba diia
tinggalkan semuanya. Hari ini kita dagang dan kerja terus-terusan, tidak
keluar-keluar di jalan Allah, maka ini seperti orang yang wudhu terus-terusan
tetapi tidak sembahyang-sembahyang. Maka penting kita bagi waktu untuk
memperjuangkan agama Allah, sisihkan waktu kita untuk agama Allah.
Insya
Allah kita semua bersedia !!
Tidak ada komentar: